Informasi Seputar Pendidikan Sekolah Dasar

UPT SPF SDN TIMBUSENG II, 07 Mei 2026 – Suasana ruang kelas 4A pada Kamis siang ini tampak berbeda dari biasanya. Lantai kelas dihiasi deng...

UPT SPF SDN TIMBUSENG II, 07 Mei 2026 – Suasana ruang kelas 4A pada Kamis siang ini tampak berbeda dari biasanya. Lantai kelas dihiasi dengan potongan-potongan plastik berwarna-warni, bukan sebagai sampah, melainkan sebagai bahan baku karya seni. Di bawah bimbingan langsung wali kelas, Ibu Andriani, S.Pd., para siswa tengah asyik mengikuti pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) yang kreatif sekaligus edukatif.

Pelajaran SBK kali ini mengambil tema peduli lingkungan dengan memanfaatkan barang bekas. Salah satu karya yang paling mencuri perhatian adalah sebuah vas bunga lengkap dengan bunganya yang mekar indah, hasil kreativitas salah satu siswa kelas 4A. Menariknya, seluruh bagian dari karya tersebut dibuat dari limbah kantong kresek bekas.

Mengintegrasikan Nilai Peduli Lingkungan

Ibu Andriani menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tugas keterampilan tangan, melainkan upaya sekolah untuk menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak dini.

"Kami mengintegrasikan mata pelajaran SBK dengan pendidikan karakter peduli lingkungan. Anak-anak diajak untuk melihat bahwa barang yang dianggap sampah, jika dikelola dengan kreativitas, bisa memiliki nilai estetika dan manfaat kembali," ujar Ibu Andriani di sela-sela kegiatan belajar mengajar.

Proses Panjang Menuju Karya Indah

Bahan-bahan yang digunakan oleh siswa tidak dibeli baru, melainkan dikumpulkan dari rumah masing-masing serta diambil dari Bank Sampah sekolah. Untuk memastikan kebersihan dan higienitas, para siswa melakukan beberapa tahapan proses:

  1. Pembersihan: Kantong kresek bekas dicuci bersih terlebih dahulu.

  2. Pengeringan: Plastik yang telah dicuci dijemur hingga benar-benar kering.

  3. Pembuatan Pola: Siswa mengukur dan membuat pola kelopak bunga dan bagian vas secara teliti.

  4. Pemotongan & Perangkaian: Pola digunting lalu dirangkai satu per satu hingga membentuk kuntum bunga yang rimbun dan vas yang kokoh.

  5. Finishing: Karya dihias sedemikian rupa dengan ornamen tambahan agar tampil makin menawan.

Hasil Karya yang Menginspirasi

Hasilnya sungguh luar biasa. Vas bunga berwarna kuning cerah dengan hiasan kupu-kupu dan bunga kecil tersebut tampak sangat serasi dengan bunga-bunga plastik berwarna ungu, merah, biru, dan putih di atasnya.

Karya ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bahan bukan menjadi penghalang bagi siswa untuk berkreasi. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan para siswa kelas 4A tidak hanya mahir dalam keterampilan seni, tetapi juga menjadi pelopor gerakan "Zero Waste" atau bebas sampah di lingkungan sekolah.

Semoga semangat kreatif dari kelas 4A ini dapat menginspirasi seluruh warga sekolah untuk terus menjaga kebersihan bumi kita!

Penulis: Tim Jurnalis Sekolah 
Foto: Dokumentasi Kegiatan Kelas 4A

  MAKASSAR – (07/05) Ada pemandangan berbeda di meja-meja kayu kelas 2A UPT SPF SDN Timbuseng II pagi ini. Bukan tumpukan buku teori yang ...

 MAKASSAR(07/05) Ada pemandangan berbeda di meja-meja kayu kelas 2A UPT SPF SDN Timbuseng II pagi ini. Bukan tumpukan buku teori yang terlihat, melainkan botol plastik bekas, tutup botol warna-warni, dan sedotan yang berserakan. Namun jangan salah sangka, ini bukanlah sampah, melainkan "bahan baku" masa depan di tangan para inovator cilik.

Salah satu produk yang dihasilkan oleh siswa

Di bawah bimbingan wali kelas, Ibu Nurhayati, S.Pd., para siswa sedang asyik menyulap barang bekas menjadi mainan mobil-mobilan yang unik. Kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan wujud nyata integrasi pembelajaran dengan nilai-nilai peduli lingkungan.

Dari Bank Sampah ke Meja Kreativitas

Yang membuat kegiatan ini istimewa adalah asal-usul bahannya. Seluruh material diperoleh dari Bank Sampah Sekolah. Hal ini mengajarkan siswa sejak dini bahwa barang yang dianggap tidak berharga bisa menjadi produk yang memiliki nilai guna kembali (upcycling).


"Kami ingin menanamkan pola pikir bahwa sampah bukanlah akhir dari segalanya. Dengan sedikit kreativitas, anak-anak bisa membantu mengurangi beban lingkungan sekaligus mengasah kemampuan motorik dan kognitif mereka," ujar Ibu Nurhayati di sela-sela memandu siswanya.

Belajar Sambil Bermain

Melalui pembuatan mainan ini, siswa kelas 2A belajar banyak hal secara bersamaan:

  • Sains Sederhana: Memahami bagaimana roda (tutup botol) dan poros (sedotan/tusuk) bekerja agar mobil bisa meluncur.

  • Pendidikan Karakter: Melatih kesabaran, ketelitian, dan kerja sama antar teman.

  • Literasi Lingkungan: Memahami konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle) secara praktik, bukan sekadar hafalan.

Harapan Besar dari Langkah Kecil

Langkah kecil yang dilakukan di kelas 2A ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh warga sekolah. Dengan memanfaatkan limbah botol plastik, SDN Timbuseng II membuktikan bahwa pendidikan lingkungan hidup bisa disampaikan dengan cara yang sangat menyenangkan.

Siswa kelas 2A sedang merakit mobil-mobilan dari botol plastik bekas.

Tengok saja raut wajah bangga para siswa saat mobil-mobilan buatan mereka berhasil berdiri tegak dan siap "berbalapan" di lantai kelas. Sebuah senyum kemenangan untuk bumi yang lebih hijau.

Penulis: Heri Sitakka 
Dokumentasi: Kegiatan Kelas 2A UPT SPF SDN Timbuseng II

 Timbuseng, 6 Mei 2026 — Suasana belajar di kelas 5B UPT SPF SDN Timbuseng II tampak berbeda pada Rabu (06/05). Para siswa terlihat antusia...

 Timbuseng, 6 Mei 2026 — Suasana belajar di kelas 5B UPT SPF SDN Timbuseng II tampak berbeda pada Rabu (06/05). Para siswa terlihat antusias dan fokus saat mengikuti kegiatan praktik membuat kerajinan tangan berupa kincir angin dari bahan kertas bekas.

Kincir Angin buatan siswa kelas 5B dipajang pada area bank sampah sekolah 

Kegiatan ini dipandu langsung oleh guru kelas, Ardiansyah, S.Pd., sebagai bagian dari pembelajaran yang mengintegrasikan kreativitas siswa dengan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak untuk memanfaatkan kertas bekas menjadi karya yang bernilai guna dan menyenangkan.

Siswa memarkan gulungan kertas bekas
Dengan penuh semangat, para siswa memotong, melipat, dan merangkai kertas hingga menjadi kincir angin berwarna-warni. Selain melatih keterampilan motorik dan kreativitas, kegiatan ini juga memberikan pemahaman bahwa sampah dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Tampak mereka dengan semangat memotong dan merangkai kertas

“Kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran kepada siswa bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memanfaatkan barang bekas,” ujar Ardiansyah.

Siswa memamerkan hasil karya dengan bangga

Hasil karya siswa kemudian dikumpulkan dan dipamerkan di bank sampah sekolah. Pameran ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi siswa lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan serta berani berkreasi dari barang-barang yang sudah tidak terpakai.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan nilai-nilai peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Makassar-(05/05/2026)  Suasana di Panggung Aksi UPT SPF SDN Timbuseng II tampak berbeda dari biasanya pada Kamis pagi (10.00 – 12.00 WITA). ...

Makassar-(05/05/2026) Suasana di Panggung Aksi UPT SPF SDN Timbuseng II tampak berbeda dari biasanya pada Kamis pagi (10.00 – 12.00 WITA). Puluhan siswa-siswi kelas 3B berkumpul dengan penuh antusias, membawa botol plastik bekas yang telah mereka siapkan. Bukan untuk dibuang, melainkan untuk disulap menjadi mainan kincir angin yang edukatif dan penuh warna.

Keceriaan siswa kelas 3B saat menunjukkan bahan botol plastik yang siap didaur ulang di Panggung Aksi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program sekolah dalam menanamkan nilai-nilai lingkungan hidup sejak dini. Dengan bimbingan yang telaten, para siswa belajar memotong dan merakit botol-botol tersebut menjadi kincir yang dapat berputar saat tertiup angin.

Ibu Srirahayu, S.Pd, selaku Wali Kelas 3B yang mendampingi langsung kegiatan ini, menyampaikan bahwa tujuan utama dari aksi ini adalah untuk memantik motivasi siswa. "Kami ingin anak-anak mulai melihat barang bekas bukan sebagai sampah, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali melalui kreativitas," ujarnya di sela-sela kegiatan.

Turut hadir memantau kegiatan, Bapak Heri Ismawanto, S.Pd, selaku Ketua Tim Adiwiyata UPT SPF SDN Timbuseng II. Beliau memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif kelas 3B. Menurutnya, pemanfaatan botol plastik menjadi kincir angin adalah langkah nyata dalam mendukung visi sekolah Adiwiyata yang peduli dan berbudaya lingkungan.


Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi tidak hanya membawa pulang mainan baru, tetapi juga membawa pulang kesadaran akan pentingnya menjaga bumi dengan cara yang menyenangkan.


Sampah plastik? Bukan masalah, kami jadikan karya!

#UPTSPFSDNTimbusengII 
#SekolahAdiwiyata 
#DaurUlang 
#KreativitasSiswa 
#KincirAnginEdukasi

MAKASSAR, WARTA PENDIDIKAN — 05 Mei 2026 Kepedulian terhadap lingkungan hidup terus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Hal ini terl...

MAKASSAR, WARTA PENDIDIKAN — 05 Mei 2026
Kepedulian terhadap lingkungan hidup terus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Hal ini terlihat nyata di UPT SPF SDN Timbuseng II, di mana para siswa secara rutin menjalankan program Bank Sampah Sekolah sebagai bagian dari aktivitas harian mereka.
[Foto Kegiatan Siswa : Siswa sedang 
memilah dan menyetor sampah ke Petugas 
Bank Sampah]
Siswa UPT SPF SDN Timbuseng II 
melakukan penyetoran sampah rutin 
berdasarkan kategori organik dan 
non- Oerganik di lokasi Bank Sampah 
sekolah.
Setiap pagi, suasana di area Bank Sampah sekolah tampak ramai. Siswa yang bertugas piket kebersihan kelas tidak hanya menyapu ruangan, tetapi juga bertanggung jawab membawa sampah hasil pilahan kelas mereka untuk disetorka. Sampah-sampah tersebut dipisahkan dengan teliti ke dalam dua kategori utama: organik dan non-organik.

Pihak sekolah menjelaskan bahwa sistem ini bertujuan untuk membangun karakter disiplin dan rasa tanggung jawab siswa terhadap limbah yang mereka hasilkan sendiri. "Kegiatan ini dilakukanoleh masing-masing kelas setiap harinya. Siswa piket yang bertanggung jawab memastikan sampah kelas mereka sampai di titik pengolahan," ujar salah satu perwakilan sekolah.

Siklus Pengolahan Sampah:
Organik: Diolah menjadi pupuk melalui
komposter.
Non-Organik: Didaur ulang atau dijadikan media
pembelajaran kreatif.

Tidak berhenti pada tahap pengumpulan, pengelola Bank Sampah Sekolah kemudian melakukan tindak lanjut yang komprehensif. Sampah organik diserahkan kepada tim pengelola komposter untuk diolah menjadi pupuk organik yang nantinya digunakan untuk menyuburkan tanaman di taman sekolah.

Sementara itu, sampah non-organik seperti botol plastik dan kemasan bekas tidak dibuang begitu saja. Barang-barang ini ditampung untuk kemudian dimanfaatkan kembali. Selain dijual ke pengepul untuk menambah dana sekolah, sebagian besar sampah plastik diubah menjadi media pembelajaran kreatif oleh para guru dan siswa.

Langkah inovatif ini diharapkan dapat menjadikan UPT SPF SDN Timbuseng II sebagai role model sekolah berbasis lingkungan (Adiwiyata), di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai edukasi tinggi.







  SDN TIMBUSENG II  (27/04)– Ada yang unik di area kebun sekolah UPT SPF SDN Timbuseng II hari ini. Jika biasanya kursi rusak berakhir di gu...

 SDN TIMBUSENG II (27/04)– Ada yang unik di area kebun sekolah UPT SPF SDN Timbuseng II hari ini. Jika biasanya kursi rusak berakhir di gudang atau tempat sampah, di tangan kreatif siswa kelas 6A dan 6B, kayu-kayu bekas tersebut disulap menjadi sesuatu yang fungsional dan mempercantik lingkungan sekolah.

Kolaborasi Kelas 6A dan 6B

Bukan sekadar tugas sekolah, pembuatan papan nama kebun bertuliskan "Lihat Kebunku, Rawatlah & Jagalah!" ini merupakan proyek kolaborasi. Siswa dari kedua kelas saling bahu-membahu mulai dari mengampelas kayu, mengecat, hingga menuliskan pesan lingkungan.

Didampingi langsung oleh Ketua Tim Adiwiyata, Bapak Heri Ismawanto, S.Pd., kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan jiwa kewirausahaan dan kepedulian lingkungan melalui pemanfaatan limbah sekolah.

Proses Pembuatan yang Telaten

Bahan utama papan ini diambil dari sandaran dan kaki kursi siswa yang sudah tidak layak pakai. Prosesnya meliputi:

  • Pembersihan & Pengecatan: Kayu dipoles dengan cat dasar berwarna putih bersih agar terlihat mencolok.

  • Sentuhan Seni: Setelah cat kering, siswa dengan telaten menuliskan pesan ajakan menjaga kebun menggunakan spidol permanen Snowman.

  • Pemasangan: Papan dipasang di area kebun sebagai pengingat bagi seluruh warga sekolah untuk selalu menjaga kelestarian tanaman.

Pesan dari Ketua Tim Adiwiyata

"Kita ingin menunjukkan kepada siswa bahwa barang yang dianggap sampah pun masih punya nilai guna. Dengan sentuhan sedikit kreativitas, mereka bisa menciptakan perubahan besar bagi estetika sekolah," ungkap Pak Heri Ismawanto, S.Pd.

Kegiatan ini membuktikan bahwa menjadi sekolah Adiwiyata tidak harus selalu dengan barang baru yang mahal. Cukup dengan kepedulian dan kerja sama, lingkungan sekolah bisa tetap asri dan terawat.

"Fokus dan telaten, setiap goresan spidol adalah bentuk kecintaan siswa pada lingkungannya."

#SekolahAdiwiyata #SDNTimbusengII #Upcycling #KreativitasSiswa #ZeroWaste
Penulis : Tim Kreatif UPT SPF SDN Timbuseng II
Foto : Dokumentasi HS


 


 

  Berikut adalah visi UPT SPF SD Negeri Timbuseng II : Terwujudnya Generasi Pelajar Pancasila Yang Ceria dan Berwawasan Lingkungan. Penje...

 
Berikut adalah visi UPT SPF SD Negeri Timbuseng II :
Terwujudnya Generasi Pelajar Pancasila Yang Ceria dan Berwawasan Lingkungan.
Penjelasan Visi:
1. Pelajar Pancasila
Ini adalah fondasi utamanya. Maksudnya, pelajar tidak hanya pintar secara akademik, tapi memiliki enam ciri utama (Profil Pelajar Pancasila) yang dicanangkan Kemendikbud:
Beriman & Bertakwa: Memiliki akhlak mulia kepada Tuhan dan sesama.
Berkebinekaan Global: Terbuka pada perbedaan budaya namun tetap bangga dengan identitas bangsa.
Gotong Royong: Memiliki jiwa kolaborasi dan kepedulian.
Mandiri: Bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya.
Bernalar Kritis: Mampu mengolah informasi secara objektif.
Kreatif: Mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal.

2. Ceria

Kata "Ceria" di sini sangat penting dalam konteks pendidikan modern (Well-being). Maknanya adalah:

Ekosistem Belajar yang Menyenangkan: Sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan atau penuh tekanan, melainkan tempat yang membuat siswa merasa aman dan bahagia.

Kesehatan Mental: Siswa memiliki emosi positif, rasa percaya diri, dan antusiasme tinggi dalam bereksplorasi.

Optimisme: Membentuk mentalitas yang positif dalam menghadapi tantangan belajar.

3. Berwawasan Lingkungan

Ini berkaitan dengan tanggung jawab ekologis. Siswa diharapkan:

Sadar Lingkungan (Eco-literacy): Memahami hubungan antara manusia dan alam.

Aksi Nyata: Memiliki kebiasaan menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, menghemat energi, atau menanam pohon (budaya Adiwiyata).

Keberlanjutan: Berpikir bagaimana tindakan mereka hari ini akan berdampak pada bumi di masa depan.

Misi UPT SPF SD Negeri Timbuseng II
Penjelasan Misi:
Mewujudkan Generasi Pelajar Pancasila yang Ceria dan Berwawasan Lingkungan
1)    Menguatkan Fondasi Keimanan dan Akhlak Mulia
    Melaksanakan pembiasaan ibadah dan pengembangan karakter religius sebagai wujud nyata sila pertama Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
2)    Mengembangkan Pembelajaran yang Menalar Kritis dan Kreatif
    Menerapkan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang memicu daya kritis dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah.
3)    Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme dan Kebinekaan Global
Menyelenggarakan kegiatan literasi budaya dan penguatan identitas bangsa untuk membentuk pelajar yang menghargai keberagaman.
4)    Mewujudkan Ekosistem Sekolah yang Ramah Anak
    Menjamin lingkungan belajar yang bebas dari perundungan (bullying) dan kekerasan, sehingga setiap siswa merasa aman dan terlindungi.
5)    Mengoptimalkan Layanan Bimbingan dan Kebahagiaan Siswa
    Menyediakan ruang konseling dan pendampingan emosional yang suportif untuk memastikan kesehatan mental dan keceriaan siswa terjaga.
6)    Memfasilitasi Pengembangan Bakat secara Merdeka
    Memberikan wadah seluas-luasnya bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi non-akademik, seni, dan olahraga guna membangun kepercayaan diri yang positif.
7)    Mengintegrasikan Etika Lingkungan dalam Kurikulum
    Menyisipkan materi pelestarian alam dan keberlanjutan ke dalam mata pelajaran untuk membangun pemahaman ekologis yang mendalam.
8)    Melaksanakan Gerakan Sekolah Bersih dan Hijau (Green School)
    Mewajibkan aksi nyata seperti penghijauan area sekolah, penghematan energi, dan pengelolaan sampah mandiri oleh seluruh warga sekolah.
9)    Membangun Kemitraan Strategis Berbasis Lingkungan
    Bekerja sama dengan komunitas lingkungan, orang tua, dan instansi terkait untuk mendukung program sekolah yang berkelanjutan dan berdampak luas.
    Misi ini menjelaskan langkah-langkah konkret untuk mencapai visi, dengan fokus pada tindakan yang berorientasi pada murid. Setiap poin misi memiliki keterkaitan dengan indikator visi, seperti penguatan keimanan, kewargaan, dan keterampilan abad 21, serta mencerminkan prioritas.

Tujuan Satuan Pendidikansatuan pendidikan. 
    Misi ini juga memastikan keterlibatan seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan eksternal, seperti masyarakat Talaga Jaya, untuk menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.
    Tujuan akhir yang diharapkan oleh UPT SPF SD Negeri Timbuseng II dalam pelaksanaan program- program sekolah untuk mewujudkan misi sekolah, yaitu :
1.     Terwujudnya Karakter Religius:
    Seluruh siswa mampu mempraktikkan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing dalam bentuk akhlak mulia dan toleransi beragama di lingkungan sekolah.
2.     Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi:
    Menghasilkan lulusan yang mampu bernalar kritis dan solutif dalam menghadapi persoalan akademik maupun kehidupan sehari-hari.
3.     Lestarinya Budaya Bangsa:
    Siswa memiliki kesadaran tinggi akan identitas nasional dan mampu beradaptasi dengan keragaman global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
4.     Tercapainya Indeks Kebahagiaan Siswa yang Tinggi:
    Menciptakan lingkungan sekolah di mana siswa merasa senang hadir di kelas, aktif berpartisipasi, dan terhindar dari tekanan mental yang berlebihan.
5.     Nol Kasus Perundungan (Zero Bullying):
    Menjamin terciptanya sekolah sebagai zona aman bagi fisik dan psikis siswa melalui pengawasan dan sistem pengaduan yang efektif.
6.     Penyaluran Potensi Diri yang Optimal:
    Setidaknya setiap siswa memiliki satu bidang bakat (seni, olahraga, atau teknologi) yang dikembangkan secara serius melalui ekstrakurikuler.
7.     Terbentuknya Perilaku Ramah Lingkungan:
    Siswa secara mandiri mampu menerapkan budaya pilah sampah, hemat air, dan meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai di sekolah.
8.     Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar:
    Menjadikan taman sekolah, kebun, dan fasilitas lingkungan lainnya sebagai "laboratorium alam" untuk praktik belajar siswa secara langsung.
9. Terciptanya Kolaborasi Lintas Sektor:
    Terjalinnya kerja sama yang aktif dengan pihak eksternal (Dinas Lingkungan Hidup, praktisi, atau komunitas) untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter dan lingkungan.
    Kesimpulan dari tujuan-tujuan tersebut dapat dirangkum ke dalam satu kalimat inti:
Membentuk manusia seutuhnya yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan karakter (Pancasila), kesehatan mental yang prima (Ceria), serta tanggung jawab moral terhadap kelestarian bumi (Berwawasan Lingkungan).


UPT SPF SDN TIMBUSENG II – Suasana di depan kelas 5B pagi ini tampak berbeda dari biasanya. Bukan buku atau pensil yang dipegang oleh para ...

UPT SPF SDN TIMBUSENG II – Suasana di depan kelas 5B pagi ini tampak berbeda dari biasanya. Bukan buku atau pensil yang dipegang oleh para siswa, melainkan botol-botol berisi cairan kecokelatan yang beraroma segar. Hari ini, Kamis (30/4), siswa-siswi kelas 5B UPT SPF SDN Timbuseng II merayakan hasil kesabaran mereka selama empat bulan terakhir: Panen Besar Eco Enzym!


Proses Panjang yang Berbuah Manis

Cairan yang sering disebut sebagai "cairan ajaib" ini bukan didapat dari toko, melainkan hasil karya tangan kreatif para siswa sendiri. Di bawah bimbingan guru kelas, Bapak Ardiansyah, S.Pd., para siswa telah mengolah limbah dapur seperti kulit buah dan sisa sayuran sejak empat bulan lalu.

"Ini bukan sekadar praktik sains, tapi tentang bagaimana anak-anak belajar mencintai bumi. Mereka belajar bahwa sampah yang biasanya dibuang begitu saja, ternyata bisa diubah menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat jika dikelola dengan ilmu," ujar Pak Ardiansyah di sela-sela kegiatan.

Memberi Nutrisi untuk Taman Sekolah

Setelah dipanen dan disaring, kegiatan berlanjut dengan aksi nyata. Dengan penuh semangat, para siswa menuangkan cairan eco enzym tersebut ke tanaman-tanaman hias yang berjejer rapi di depan kelas mereka.

Eco enzym ini berfungsi sebagai pupuk organik alami yang akan membuat tanaman di SDN Timbuseng II tumbuh lebih subur dan hijau tanpa sentuhan bahan kimia berbahaya.

Belajar Jadi Pahlawan Lingkungan

Melalui kegiatan ini, siswa kelas 5B membuktikan bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil di sekolah. Tak hanya belajar tentang biologi dan kimia sederhana, mereka juga mengasah rasa tanggung jawab dan kerja sama tim.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti di sekolah saja, tapi juga bisa diterapkan oleh para siswa di rumah masing-masing bersama orang tua.

Apa itu Eco Enzym? Sebagai informasi, Eco Enzym adalah larutan organik yang dihasilkan dari fermentasi sisa sampah organik, gula, dan air. Selain untuk pupuk, cairan ini juga bisa digunakan sebagai pembersih lantai alami hingga pengusir hama!

Penulis: Tim Kreatif UPT SPF SDN Timbuseng II 
Foto: Dokumentasi Kelas 5B

1. Permendikdasmen No. 11 Tahun 2025   Mengatur beban kerja guru secara lebih jelas: minimal 24 JP bisa dipenuhi dengan pembelajaran tatap m...

1. Permendikdasmen No. 11 Tahun 2025  

Mengatur beban kerja guru secara lebih jelas: minimal 24 JP bisa dipenuhi dengan pembelajaran tatap muka, projek, atau pendampingan belajar.

2. Penyederhanaan Administrasi Pembelajaran  

Guru tidak wajib membuat dokumen berlapis; cukup modul ajar atau RPP ringkas yang langsung digunakan dalam pembelajaran.



3. Supervisi Akademik Model Baru  

Pengawas dan kepala sekolah wajib melakukan supervisi berbasis coaching, bukan inspeksi administratif.


4. Perubahan Mekanisme SKTP  

Validasi SKTP dipercepat dan terintegrasi langsung dengan Info GTK dan Dapodik.


5. Standar Minimum Kualifikasi Guru  

Guru tanpa S1 diberikan jalur percepatan penyetaraan dan pendidikan lanjutan yang difasilitasi pemerintah.


6. Penataan Guru Honorer 2025–2026  

Semua non-ASN yang terdata wajib masuk pemetaan formasi PPPK, termasuk prioritas bagi guru >5 tahun mengabdi.


7. Optimalisasi Beban Mengajar di Satu Sekolah  

Guru tidak lagi diwajibkan mencari jam tambahan di sekolah lain jika sekolah sudah menyediakan kegiatan pembelajaran tambahan yang sah.


8. Digitalisasi Tugas Guru  

Penggunaan platform *ASN Digital*, *e-Kinerja*, dan *Manajemen Pembelajaran* kini wajib untuk semua guru ASN/PPPK.


9. Penilaian Kinerja Guru Model Baru  

Penilaian dilakukan berbasis bukti praktik mengajar (praktik baik), bukan tumpukan dokumen.


10. Program Penguatan Kompetensi Guru  

Guru wajib mengikuti pelatihan minimal 20 JP per tahun melalui platform resmi pemerintah.


11. Penataan Kurikulum & Projek Profil Pelajar Pancasila  

Kurikulum Merdeka diperkuat dengan fleksibilitas yang lebih besar dan penyederhanaan projek.


12. Penguatan Perlindungan Guru  

Sekolah wajib membuat SOP perlindungan profesi untuk mencegah kriminalisasi dan kekerasan terhadap guru.


13. Aturan Baru Pengelolaan MBG di Sekolah  

Sekolah tertentu yang siap boleh mengelola *dapur MBG*, tetapi tidak menjadi kewajiban untuk semua sekolah.

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1PRm2qaGJm/


Tujuan kegiatan ini dibagi menjadi tiga aspek utama: pengetahuan, karakter, dan pengalaman. ​ Mengenal Identitas dan Sejarah Lokal Siswa ...


Tujuan kegiatan ini dibagi menjadi tiga aspek utama: pengetahuan, karakter, dan pengalaman.

  • Mengenal Identitas dan Sejarah Lokal Siswa dapat mengenal secara langsung peninggalan sejarah Kerajaan Gowa (seperti Istana Balla Lompoa atau Benteng Somba Opu) untuk memahami asal-usul dan kebesaran daerah mereka sendiri.
  • Meneladani Sikap Kepahlawanan Mengambil pelajaran moral dari tokoh pahlawan nasional Sultan Hasanuddin ("Ayam Jantan dari Timur") dan raja-raja Gowa lainnya, khususnya mengenai keberanian, gigih mempertahankan tanah air, dan jiwa kepemimpinan.
  • Menumbuhkan Rasa Cinta Budaya Mengajak siswa untuk lebih mencintai dan merasa bangga terhadap warisan budaya lokal agar mereka termotivasi untuk ikut melestarikannya di masa depan. 

  • Pembelajaran di Luar Kelas (Outing Class) Memberikan pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan (joyful learning), di mana siswa tidak hanya membaca buku teks, tetapi melihat dan menyentuh bukti sejarah secara langsung.

Setelah upacara pengibaran bendera merah putih, para murid UPT SPF SDN Timbuseng II menantikan dengan penuh harap di lapangan sekolah pengum...

Setelah upacara pengibaran bendera merah putih, para murid UPT SPF SDN Timbuseng II menantikan dengan penuh harap di lapangan sekolah pengumuman lomba baca puisi dalam rangka hari guru nasional yang diselenggarakan secara virtual oleh panitia pelaksana. Kegiatan ini berlangsung selama 5 hari dari tanggal 24 hingga tanggal 28 November 2025.


Sedikitnya 40 siswa terlibat dalam persaingan menampilkan puisi terbaiknya untuk para guru-guru mereka. Namun diantara mereka, hanya ada 5 murid yang keluar sebagai pemenang, peraih skor tertinggi berdasarkan hasil penjurian dewan juri.

Suldiana, S.Pd., M.Pd, selaku kepala sekolah sangat mengapresiasi kegiatan-kegiatan seperti ini. Beliau juga berharap agar para murid senantiasa mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini, baik yang dilakukan dalam lingkup sekolah maupun kegiatan-kegiatan lomba di luar sekolah. "Kegiatan seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya diri pada murid-murid, menumbuhkan jiwa seni, dan sportifitas" imbuhnya pada saat membawakan sambutan serah terima hadiah. 

Adapun daftar nama murid-murid yang menjadi pemenang lomba baca puisi:
  1.  M. Adnan Zafran Kelas 4a, dengan skor nilai 512, memperoleh hadiah berupa uang tunai senilai Rp. 100.000,-.
  2. Sri Ekha Afriyani kelas 2a, dengan skor nilai 480, memperoleh hadiah berupa uang tunai senilai Rp. 75.000,-.
  3. Ahmad Jibril Annur kelas 4a, dengan skor nilai 480, memperoleh hadiah uang tunai senilai Rp  75.000,-
  4. Fitrah Ramadhan Al Gani kelas 4b, dengan skor nilai 475, memperoleh uang tunai senilai Rp. 50.000,-.
  5.  Ahmad Albiansyah kelas 4b, dengan skor nilai 475, memperoleh uang tunai senilai Rp. 50.000,-.
Selamat bagi para pemenang lomba, 
Ukirlah prestasi kalian sejak dini, dan 
Raihlah mimpimu berawal dari menjadi anak Indonesia hebat.( HS.02/12/25)

Bayangkan dua skenario ini: ​Seorang siswa yang mampu menghafal rumus fisika dengan sempurna dan mendapatkan nilai 100 dalam ujian. ​Seor...

Bayangkan dua skenario ini:

  1. ​Seorang siswa yang mampu menghafal rumus fisika dengan sempurna dan mendapatkan nilai 100 dalam ujian.
  2. ​Seorang siswa yang mungkin lupa rumus tepatnya, namun mengerti konsep dasarnya dan mampu menggunakannya untuk memperbaiki pompa air di rumahnya yang rusak.

​Manakah yang lebih siap menghadapi dunia? Seringkali, sistem pendidikan kita terlalu memuja skenario pertama dan mengabaikan yang kedua. Kita terjebak dalam obsesi teaching to the test—mengajar demi ujian. Padahal, ujian hanyalah potret sesaat, sementara kehidupan adalah maraton panjang yang penuh dengan ketidakpastian.

​Jika tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia, maka kita perlu mengubah pola pikir: Tujuan akhir sekolah bukanlah selembar ijazah dengan nilai sempurna, melainkan individu yang tangguh, adaptif, dan siap berkontribusi.

​Ujian sekolah biasanya didesain dengan struktur yang rapi: ada pertanyaan, ada jawaban benar, dan ada jawaban salah. Semuanya hitam di atas putih.


Namun, kehidupan nyata tidak memiliki kunci jawaban.

  • ​Di dunia kerja, masalah datang tanpa pilihan ganda A, B, C, atau D.
  • ​Dalam hubungan sosial, rumus matematika tidak bisa menyelesaikan konflik emosional.
  • ​Saat menghadapi kegagalan bisnis, hafalan sejarah tidak serta merta membangkitkan mental.

​Ketika kita hanya melatih murid untuk siap ujian, kita sedang melatih mereka untuk situasi yang terprediksi. Sayangnya, kita sedang mengirim mereka ke masa depan yang semakin tidak terprediksi (VUCA - Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

​Agar murid siap hidup, fokus pembelajaran harus meluas dari sekadar kognitif (akademis) menjadi holistik. Berikut adalah "bekal" yang harus kita masukkan ke dalam tas sekolah mereka:

​1. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking)

​Bukan tentang "apa" yang harus dipikirkan, tapi "bagaimana" cara berpikir. Murid harus diajak untuk bertanya "kenapa?" dan "bagaimana jika?", bukan hanya menerima informasi mentah-mentah.

​Contoh: Alih-alih hanya menghafal tahun kemerdekaan, ajak murid menganalisis dampak ekonomi jika kemerdekaan tertunda 10 tahun.

​2. Resiliensi dan Kegigihan (Grit)

​Hidup akan memukul mereka jatuh. Ujian seringkali memberikan ilusi bahwa kesalahan adalah dosa yang dihukum dengan tinta merah. Padahal di kehidupan, kesalahan adalah guru terbaik. Murid perlu belajar gagal, bangkit, dan mencoba lagi.

​3. Kecerdasan Emosional dan Kolaborasi

​Di era AI (Kecerdasan Buatan), kemampuan teknis bisa digantikan mesin. Namun, empati, kemampuan memimpin, mendengarkan, dan bekerja sama adalah sisi manusiawi yang tak tergantikan. Sukses di masa depan sangat bergantung pada seberapa baik seseorang berhubungan dengan orang lain.

​4. Literasi Finansial dan Praktis

​Sangat ironis jika seorang murid bisa menghitung integral yang rumit, tetapi bingung cara mengatur gaji, memahami pajak, atau memasak makanan sehat untuk dirinya sendiri.

​Perubahan ini tidak hanya tugas Menteri Pendidikan, tetapi tugas guru di kelas dan orang tua di rumah. Berikut langkah praktis yang bisa diambil:

  • ​Ubah Pola Asesmen: Jangan hanya mengandalkan tes tertulis. Gunakan Project-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek). Biarkan murid membuat solusi nyata untuk masalah di lingkungan sekitar (misal: merancang sistem sampah di sekolah).
  • ​Rayakan Proses, Bukan Hanya Hasil: Pujilah usaha dan strategi mereka, bukan hanya kecerdasan atau nilai akhirnya. "Ibu bangga kamu tidak menyerah mencari jawaban itu," lebih bernilai daripada "Wah, kamu pintar dapat 100."
  • ​Beri Ruang untuk Eksplorasi Minat: Tidak semua anak harus jago Matematika. Biarkan mereka menemukan "nyawa" mereka, entah itu di seni, olahraga, koding, atau wirausaha.

​Pendidikan adalah tentang menyalakan api keingintahuan, bukan mengisi bejana kosong. Jika kita berhasil mendidik murid yang siap hidup, nilai ujian yang baik hanyalah efek samping yang menyenangkan, bukan tujuan utama.

​Mari kita didik anak-anak kita bukan untuk menjadi perpustakaan berjalan yang menyimpan banyak data, tetapi menjadi penjelajah tangguh yang siap mengarungi samudra kehidupan dengan segala badainya.

​Karena pada akhirnya, ujian terberat tidak terjadi di dalam kelas, melainkan saat mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah. (HS)

 Menjelang peringatan hari guru nasional (HGN) tahun 2025 hampir semua murid memberikan ucapan selamat kepada guru-guru nya bahkan beberapa ...

 Menjelang peringatan hari guru nasional (HGN) tahun 2025 hampir semua murid memberikan ucapan selamat kepada guru-guru nya bahkan beberapa murid rela memberikan bingkisan dan sejenisnya demi memberikan apreasi kepada guru tercintanya. Bukan hanya murid orang tua murid pun tidak kalah antusiasnya dalam memberikan ucapan selamat kepada guru-guru bagi buah hatinya di sekolah. Tentunya hal ini memberikan semangat dan rasa bangga kepada rekan-rekan yang berprofesi sebagai guru atau si Oemar Bakrie. 


Beda halnya di UPT SPF SDN Timbuseng II, tahun ini merayakan hari guru dengan cukup unik. Kegiatan lomba baca puisi secara virtual digelar bagi murid-murid dari tingkatan kelas 1 sampai dengan tingkatan kelas 6. Sedikitnya ada 40 siswa yang ikut serta dalam mengirimkan vidio puisinya.

Lomba ini digelar mulai tanggal 24 s/d 28 November 2025. Murid dan orangtua bekerja sama membuat vidio puisi bertemakan guru di rumah, lalu mengirimkannya ke panitia pelaksana. Selanjutnya panitia pelaksan menampung dan memberikannya kepada juri untuk dinilai. 

Berikut adalah daftar nama murid yang mendapatkan juara:

Juara 1: M. Adnan Zafran kelas 4a 

Juara 2 : Ahmad Jibril Annur kelas 4a dan Sri Eka Afriani 2a

Juara 3 : Fitrah Ramadhan Algani kelas 4b dan Ahmad Albiansyah 4b

Selamat bagi ananda-ananda yang telah berhasil membawakan puisi dengan baik untuk guru-guru hebat kalian. 




Pengertian Profesionalisme Guru – Istilah profesionalisme guru tentu bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan. Secara sed...

Pengertian Profesionalisme Guru – Istilah profesionalisme guru tentu bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan. Secara sederhana, profesional berasal dari kata profesi yang berarti jabatan. Orang yang profesional adalah orang yang mampu melaksanakan tugas jabatannya secara mumpuni, baik secara konseptual maupun aplikatif. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan mumpuni dalam melaksanakan tugas jabatan guru.

Bila ditinjau secara lebih dalam, terdapat beberapa karakteristik profesionalisme guru. Rebore (1991) mengemukakan enam karakteristik profesionalisme guru, yaitu: (1) pemahaman dan penerimaan dalam melaksanakan tugas, (2) kemauan melakukan kerja sama secara efektif dengan siswa, guru, orang tua siswa, dan masyarakat, (3) kemampuan mengembangkan visi dan pertumbuhan jabatan secara terus menerus, (4) mengutamakan pelayanan dalam tugas, (5) mengarahkan, menekan dan menumbuhkan pola perilaku siswa, serta (6) melaksanakan kode etik jabatan.

Sementara itu, Glickman (1981) memberikan ciri profesionalisme guru dari dua sisi, yaitu kemampuan berpikir abstrak (abstraction) dan komitmen (commitment). Guru yang profesional memiliki tingkat berpikir abstrak yang tinggi, yaitu mampu merumuskan konsep, menangkap, mengidentifikasi, dan memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam tugas, dan juga memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Komitmen adalah kemauan kuat untuk melaksanakan tugas yang didasari dengan rasa penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut, Welker (1992) mengemukakan bahwa profesionalisme guru dapat dicapai bila guru ahli (expert) dalam melakasnakan tugas, dan selalu mengembangkan diri (growth). Glatthorm (1990) mengemukakan bahwa dalam melihat profesionalisme guru, disamping kemampuan dalam melaksanakan tugas, juga perlu mempertimbangkan aspek komitmen dan tanggung jawab (responsibility), serta kemandirian (autonomy)..

Membicarakan tentang profesionalisme guru, tentu tidak bisa dilepaskan dari kegiatan pengembangan profesi guru itu sendiri. Secara garis besarnya, kegiatan pengembangan profesi guru dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: (1) pengembangan intensif (intensive development), (2) pengembangan kooperatif (cooperative development), dan (3) pengembangan mandiri (self directed development) (Glatthorm, 1991).

Pengembangan intensif (intensive development) adalah bentuk pengembangan yang dilakukan pimpinan terhadap guru yang dilakukan secara intensif berdasarkan kebutuhan guru. Model ini biasanya dilakukan melalui langkah-langkah yang sistematis, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi dan pertemuan balikan atau refleksi. Teknik pengembangan yang digunakan antara lain melalui pelatihan, penataran, kursus, loka karya, dan sejenisnya.

Pengembangan kooperatif (cooperative development) adalah suatu bentuk pengembangan guru yang dilakukan melalui kerja sama dengan teman sejawat dalam suatu tim yang bekerja sama secara sistematis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru melalui pemberian masukan, saran, nasehat, atau bantuan teman sejawat. Teknik pengembangan yang digunakan bisa melalui pertemuan KKG atau  MGMP/MGBK. Teknik ini disebut juga dengan istilah peer supervision atau collaborative supervision.

Pengembangan mandiri (self directed development) adalah bentuk pengembangan yang dilakukan melalui pengembangan diri sendiri. Bentuk ini memberikan otonomi secara luas kepada guru. Guru berusaha untuk merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, dan menganalisis balikan untuk pengembangan diri sendiri. Teknik yang digunakan bisa melalui evaluasi diri (self evaluation) atau penelitian tindakan (action research).

 

Ada banyak cerita selama wabah covid-19 melanda dunia. Hampir semua kalangan dan lapisan masyarakat merasyakan dampaknya. Begitu...

Ada banyak cerita selama wabah covid-19 melanda dunia. Hampir semua kalangan dan lapisan masyarakat merasyakan dampaknya. Begitu pula dengan mereka yang berprofesi guru. Jadi guru BDR (bekerja dari rumah) dimasa libur sekolah akibat pandemik Covid-19 memang beda. Jika biasanya pagi-pagi sudah disambut tawa ceria anak-anak, kini tak ada lagi. Juga tak terdengar lagi celotehan khas mereka. Proses belajar mengajar yang dilakukan melalui sistem online alias daring (dalam jaringan) terasa kaku. Serba teknikal. Sepi dari sisi humanisme.

Jujur harus diakui, tidak semua guru—tentu juga sekolah—siap dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) sistem online. Pagebluk Covid-19 yang tiba-tiba harus mengganti KBM konvensional membuat banyak pihak gagap. Sebab KBM online membutuhkan penguasaan sarana pembelajaran berbasis IT (Information Technology). Sesuatu yang baru bagi mayoritas sekolah dan guru—meski bagi sebagian yang lain hal itu tidak masalah. Mereka yang di kota sudah familiar dengan IT dalam KBM. Karena itu sebagian guru, termasuk saya, harus belajar lagi. Aplikasi-aplikasi yang bisa mendukung KBM online seperti Google Classroom harus cepat dikuasai.

Harus cepat belajar cara membuat soal, membuat materi, dan menilai tugas dari aplikasi tersebut atau aplikasi KBM online lain. Guru harus benar-benar melek IT seperti tulisan Ria Pusvita Sari, guru SD Muhammadiyah Manyar Gresik (SDMM).
Tapi tantangannya tidak hanya pada guru. Kekuatan KBM online juga belum banyak mendapat respon siswa, meskipun secara IT mereka lebih familiar dari guru. Dengan smartphone, mereka sudah akrab. Maka game atau kuis online yang diberikan guru dalam KBM jarak jauh tentu tak akan membuat mereka gagap. Hanya saja—berbeda dengan KBM di ruang nyata—KBM online sering direspon secara selow. Ketika saya memberi tugas online, sering tidak atau lama mendapat respon siswa. Kadang cuma dilihat tanpa ada laporannya. Tapi itulah salah satu dinamika yang ada. Guru harus belajar lebih sabar dalam menunggu jawaban siswa. Belum lagi jika tugas yang diberikan dikerjakan di buku tugas lalu difoto dan dikirimkan melalui pesan Whatsapp. Guru harus belajar memahami tulisan siswa dan mengerti apa maksudnya. Itu suka duka jadi guru online.

BDR bukan berarti semua serba enak. Salah satu dampaknya, guru tak bisa berinteraksi secara sosial dengan siswa. Bagi guru, itu sesuatu, seperti yang saya alami. Saya seperti kehilangan separuh nafas. Karena tingkah laku, senyum sapa, canda tawa, bahkan ‘kenakalan’ siswa yang menguji kesabaran dan ketelatenan, sudah menjadi bagian hidup saya. Kini semua itu tiba-tiba lenyap. Digantikan Google Classroom, Quizizz, Kahoot, dan sebagainya. Senyum dan suara mereka paling banter kini hanya bisa dilakukan dengan video call. Tapi, sekali lagi beda jika kita bertemu langsung.

KBM daring memang bisa dilakukan secara mudah dan cepat. Tapi semua ini membuat saya benar-benar rindu sekolah, rindu mereka, rindu para siswa. Selama ini sekolah seakan rumah kedua bagi guru dan siswa. Tapi kini meja dan kursinya terlihat hampa. Papan tulis pun tak lagi penuh coretan ilmu.

Saya bayangkan, siswa pun pasti merindukan bermain bersama teman-temannya. Bercanda ketika piket kelas atau saling berjanji untuk bermain setelah sekolah. Ternyata banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh KBM online. 
Lucunya, KBM online juga berdampak pada sisi finansial. Banyak siswa yang uang sakunya berkurang. Juga guru yang harus siap sedia dengan paket data—yang kadang tidak selalu bisa dipenuhi oleh guru di desa seperti saya ini.
KBM online memang membutuhkan kesiapan guru, siswa, dan orangtua. Terutama bagi sekolah-sekolah di desa. KBM online yang sebelumnya tak pernah dilakukan—berbeda dengan sekolah maju di kota—terpaksa harus dilakukan dengan tertatih-tatih. Tapi di situ ada hikmah. Allah menciptakan Virus Corona ternyata bisa memaksa guru, siswa, dan orangtua melek IT. Bagi sekolah atau guru di desa ini tantangan untuk berubah jadi sekolah berkemajuan.

Yang perlu juga dicatat adalah para guru ‘senior’. Mereka sangat asing dengan KBM online. Semoga Covid-19 ini menyadarkan mereka untuk bangkit menguasai IT.
KBM online juga memaksa orangtua menjadi guru dadakan yang penuh curhatan dari beberapa orangtua murid. Ini semua merupakan hikmah yang bisa kita ambil.
Semoga wabah Covid-19 segera berlalu!

Orang tua mungkin agak kesulitan menjelaskan bahaya dari virus corona Covid-19 kepada anak-anaknya. Terlebih, jika anaknya berta...

Orang tua mungkin agak kesulitan menjelaskan bahaya dari virus corona Covid-19 kepada anak-anaknya. Terlebih, jika anaknya bertanya hal dasar tentang virus tersebut.

Dr. Rose Mini Agus Salim (Psikolog Universitas Indonesia), mengatakan bahwa cara memberitahu tentang virus Corona Covid-19 dan penyebabnya kepada anak-anak sama seperti memberitahu kepada orang dewasa. 

Orang tua tentunya dapat menyesuaikan pendekatannya sesuai dengan tahapan usia anak. Untuk anak balita atau batita, informasi tentang Covid-19 dapat disampaikan dengan menggunakan boneka atau video lucu.

"Atau sesuatu seperti virus yang kalau kita dekati itu bisa berbahaya," katanya.

Untuk anak yang sudah lebih besar, Rose menganjurkan orang tua melakukan diskusi. Temanya dapat disesuaikan dengan level pengetahuan anak soal Covid-19.
"Apa yang perlu didiskusikan? Tanyakan dulu ke anak apa yang mereka ketahui tentang Covid-19," ujarnya.

Selain itu, orang tua perlu memberi tahu kepada anak tentang alasan yang mengharuskan mereka untuk tidak pergi ke sekolah lebih lama lagi. Dengan begitu, tidak timbul rasa penasaran dan juga kecemasan.

Di sisi lain, Rose mengingatkan agar ayah dan bunda mengendalikan kecemasannya terhadap wabah Covid-19. Dia mengatakan, anak akan mudah cemas, terutama jika orang tuanya juga menunjukkan tanda-tanda kecemasan.

"Masalahnya karena cemas itu sangat mudah untuk ditularkan. Artinya, orang tua yang cemas akan membuat anaknya jadi cemas," katanya.

Oleh karena itu, Rose mengatakan, orang tua sebaiknya tidak memberi informasi bahwa orang yang terjangkit penyakit Covid-19 itu pasti akan meninggal. Hal tersebut, menurut dia, tidak layak untuk diberitahukan kepada anak.

Menurut Rose, orang tua perlu memahami informasi utuh tentang Covid-19 bahwa penderitanya rata-rata mengalami gejala ringan. Orang yang terinfeksi virus corona tipe baru itu dapat sembuh.

"Tegaskan pula bahwa orang yang terkena virus sudah ada buktinya yang sembuh," katanya.