![]() |
Anak
adalah bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumber daya manusia yang
merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki peran
strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus memerlukan pembinaan perlindungan
dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, sosial secara
utuh, serasi, selaras dan seimbang.
Sebagai
insan yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah
Kejuruan yang notabene siswanya adalah laki-laki menghadapi siswa “nakal”
adalah hal yang biasa. Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos
sekolah, tidak mengerjakan tugas/ PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran,
tidak sholat, dan masih banyak contoh “kenakalan” lain yang kerap dilakukan
siswa. Hal-hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita. Dibutuhkan
kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.
Sebenarnya
apakah benar ada anak diberi label “nakal”? Penulis sendiri tidak setuju bila
ada siswa yang dilabeli “nakal”. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label
“nakal” apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisilain
ukuran “nakal” tiap guru berbeda-beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya
“nakal” bila siswanya tidak mengerjakan PR, guru lain berpendapat siswa yang
sering bolos/ tidak masuk sekolah adalah siswa yang “nakal”, sebagian lainnya
menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang “nakal”.
Menurut
saya tidak ada yang namanya siswa “nakal”, yang ada adalah;Siswa yang krisis
identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan
terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan
konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan
siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.
Siswa
yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan
membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima
akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah
mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan
kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Siswa
yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan
pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan
mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos
atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk
mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.
Siswa
yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah
yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang
tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar
permasalahan anaknya.
Siswa
yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti
ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’
dan berusaha untuk membalas dendam.
Siswa
yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang
tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah
yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi
juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.
Siswa
yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan
di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada
gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.
Siswa
yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat
besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau
menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.
Itulah
beberapa sebab mengapa siswa berperilaku “nakal” saat di sekolah. Saat kita
tahu latar belakang masalah perikau murid kita, tentunya kita akan merasa iba
dan kasihan. Oleh karena itu mari kita sebagai pendidik mulai untuk
menghentikan label negatif kepada siswa.
Beberapa
tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang “nakal”,
adalah: Berdo’a untuk anak terebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo’a.
Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita
menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan
berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok,
lusa, atau kapanpun.
Carilah
info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”. Tujuannya adalah agar
kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa
bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.
Hentikan
ucapan atau label “nakal” pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do’a.
jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdo’a agar dia
menjadi nakal. Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku
dan perkataannya.
Panggilah
dia ke runag BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke
hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya,
atau sebab dia berbuat “nakal”. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang
dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada akhirnya, berilah ia
solusi, motivasi dan arahan.
Latilah
dia dengan rasa tanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan
dia kepercayaan. Contoh: menjadi muadzin, mengumpulkan kas kelas, membantu kita
merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS
(meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa
dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan
kewajibannya/ tanggung jawabnya sebagai siswa.
Apabila
siswa tersebut berbuat “nakal”. Maka, tergurlah dengan pelan-pelan dan jangan
dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila
dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta
berilah mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada
mereka “saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang”. “saya
akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang”.
Apabila
siswa tersebut berbuat “nakal”. janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push
up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan menimbulkan rasa
dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman
seperti sholat dhuaha atau membaca Al-Qur'an.
Buatlah
perjanjian bila siswa tersebut berbuat “nakal”. Rekamlah dengan HP dan suruhlah
dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi
lagi, panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.
Berilah
dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat “buruk”
konsekuensinya buruk.
Bila
siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan mebuat dia
merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.
Itulah
sedikit tips dari penulis. Semoga dapat memberikan manfaat. Prinsipnya adalah
tidak ada siswa yang “nakal”. Yang ada adalah siswa kurang perhatian dan salah
bergaul. Percayalah mereka bisa berubah. Perubahan itu akan bisa terjadi bila
dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati. Bisa melalui tangan
kita, atau mungkin tangan orang lain. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.
Nb: Sumber: http://www.gurusd.id

0 coment�rios: